Kebanyakan perempuan terlalu menahan diri untuk berpendapat, bahkan untuk mengatakan 'TIDAK' atau 'SAYA TIDAK SETUJU'. Beberapa hal memaksa mereka untuk menerima segala keadaan yang terjadi di dirinya. Apa itu salah? Bisa jadi.
Perempuan kebanyakan juga hanya mampu mendeskripsikan perasaannya dengan beberapa kata saja, padahal dia sadar itu tidak cukup. Hanya saja kosakata bahasa Indonesia seolah tidak menyediakan kata-kata yang tepat untuk menjabarkan apa yang mereka rasakan. Tidak cukup dengan kata 'Bahagia', 'Cinta', 'Sakit', atau 'Sedih'. Seandainya kamus menyediakan kata yang lebih dari kata-kata itu.
Jadi, kenapa kacamata?
Bukan karena si empunya blog pakai kacamata sekarang. Tapi lebih karena kacamata menutup indera paling jujur yang biasanya mematahkan kalimat yang diupayakan terucap sungguh-sungguh.
Kenapa kita tak coba untuk saling bicara. Memendam kalimat-kalimat yang harusnya keluar memang bisa membuat kita terlihat bening, karena segala kotoran mengendap di dalam. Mengotori yang di dalam, teman.
Perempuan butuh kata-kata.
Perempuan butuh inspirasi untuk menginspirasi.
